Kamis, 9 Juli 2009
oleh: Rasantika M. Seta
Awal perkenalanku dengan Guano terjadi saat membaca sebuah buku berkebun terbitan luar negeri beberapa tahun lalu. Setelah akrab dengan rekan-rekan dari berbagai nurseri dan tanaman hias, kata Guano kerap kali terdengar dan bahkan sekarang telah ada di pasar pupuk dalam negeri. Lalu apakah Guano itu?
Berdasarkan sejarahnya, Guano lebih dulu dikenal di Peru sekitar tahun 1850-1880 sebagai barang perdagangan yang utama. Sedangkan kata Guano berasal dari bahasa Spanyol 'wanu' yang artinya kotoran (feces dan urine) dari jenis burung laut (contohnya Larus argentatus), kelelawar (contohnya Phyllonycteris aphylla) dan anjing laut. Sekarang, produk guano lebih didominasi dari kotoran burung laut dan kelelawar saja.
Sumber hewan lainnya yang kini mulai dirambah oleh para peternak adalah guano yang terbuat dari kotoran walet. Maraknya peternakan walet yang sangat menjanjikan itu, meningkatkan jumlah kotoran walet yang sangat potensial diolah kembali menjadi pupuk yang bernilai ekonomi cukup tinggi.
Untuk proses pembentukannya, secara alami pupuk guano ini terjadi dengan siklus sebagai berikut:
Banyak manfaat
Kandungan mineral dari pupuk tersebut adalah unsur utama seperti nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium, dan sulfur dengan jumlah yang bervariasi. Kandungan NPK pupuk dapat berubah tergantung sumber kotoran hewan yang digunakan, jenis makanan sehari-hari si hewan, dan penambahan unsur saat proses pembuatan di pabrik.
Manfaat dari pupuk guano adalah sebagai berikut:
Timing yang tepat
Setiap pupuk sebaiknya digunakan pada waktu yang tepat. Guano sebaiknya digunakan pada saat menjelang masa panen, menjelang pembungaan dan pembentukan buah. Kandungan mineral pada pupuk ini akan meningkatkan kualitas hasil yang diinginkan.
Kelemahannya adalah harganya lebih mahal dibandingkan jenis pupuk organik lainnya. Selain itu, pertumbuhan kandungan biji yang terdapat pupuk yang dorman, akan tumbuh menjadi gulma setelah perlakukan pemupukan.
Penggunaan pupuk guano ini relatif sama dengan penggunaan pupuk organik lainnya. Pemberian dengan dosis yang cukup rendah, yaitu berkisar 2-3 sendok makan per tanaman dapat dilakukan sebulan sekali. Atau untuk lebih optimumnya, lihat dan lakukan sesuai dengan dosis dan cara yang tertera pada label produk.
Dari penjelasan di atas, makin terlihat bahwa semakin banyak potensi natural dari lingkungan sekitar yang perlu pengkajian lebih lanjut agar potensi yang ada dapat dimanfaatkan dengan baik. Kembali ke alam dan ramah lingkungan merupakan awal kita untuk menjaga bumi menjadi lebih baik di masa yang akan datang.
Selamat berkebun.
Penulis: M. Sintia/Arsitek Lanskap