Senin, 31 Januari 2011
oleh: Indra Zaka Permana
Sinar matahari dapat menjadi teman yang baik, jika kita tahu trik bersahabat dengannya.
Tinggal di wilayah beriklim tropis sesungguhnya sangat menyenangkan. Matahari bersinar sepanjang tahun. Begitu juga tanaman, dapat tumbuh selama 12 bulan. Suhu udara pun cenderung stabil. Semua itu merupakan karunia alam yang patut disyukuri.
Namun di sisi lain, matahari sebagai sumber cahaya alami punya aspek panas. Semakin besar cahaya alami yang masuk ke dalam bangunan, semakin tinggi pula temperatur di dalam ruangan. Maka, cahaya dan panas harus mendapat perhatian serius dalam membangun hunian. Agar kita bisa mendapat manfaat dari aspek cahaya, dan di sisi lain menekan efek panas yang masuk.
Panas yang dihasilkan sinar matahari, dapat direduksi dengan strategi arah hadap bangunan. Tempatkan jendela dan ventilasi pada sisi yang tidak berhadapan secara langsung dengan sinar matahari. Bukaan sekaligus berfungsi merespon arah angin yang datang. Biasanya arah yang baik untuk banyak bukaan adalah utara dan selatan. Jangan lupa menempatkan ventilasi input dan output secara berpasangan agar udara mengalir maksimal. Layout ruang yang open space , tanpa sekat, juga memungkinkan cahaya dan udara mengalir hingga ke sudut-sudut ruang.
Cobalah mengaplikasikan atap konvensional yang memiliki ruang di antara atap dan plafon. Ruang yang tercipta di antara atap dan plafon akan menjadi insulasi termal untuk mereduksi panas. Biarkan ujung luar atap memiliki jangkauan yang cukup lebarnya. Teritisan yang cukup lebar tak hanya mencegah masuknya air hujan, pun menghalangi sinar matahari. Cahaya tidak akan masuk secara langsung, namun hanya pantulannya saja. Ruangan tetap sejuk, meski terang.
Gunakan jalusi pada bukaan bukaan untuk meminimalisir panas yang masuk. Selain jalusi, bisa juga dengan menempatkan tanaman dalam pot gantung, atau tanaman dalam pot yang ditempatkan di depan bukaan/jendela yang cukup besar.
Material tertentu juga dapat meredam panas. Marmer dan granit, contohnya, dapat membawa kesejukan dalam ruang. Begitu pula batu alam, tegel, teraso dan keramik.
Hal simpel namun tak kalah penting untuk dilakukan adalah melapisi dinding eksterior dengan warna-warna yang tidak menyerap panas, seperti putih dan krem. Pasang pula kipas angin dan menyedot udara (exhaust fan) yang membantu memutar udara yang ada dan mengeluarkan sebagian udara panas dalam ruang.
Penulis: Dewi Kartini
Foto: Richard Salampessy